DAFTAR HALAMAN

Selasa, 29 Oktober 2013

Memberi Minum Hewan

Agama Islam merupakan Agama yang mudah dan tidak menyulitkan umatnya, karena banyak sekali ibadah-ibadah yang dapat mengantarkan seseorang menuju pintu surga. Salah satu ibadah yang dapat mengantarkan seseorang menuju pintu surga adalah ibadah memberi minum hewan. Hal ini dikarenakan ibadah ini dapat menghapuskan dosa sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda:
"ketika sedang melakukan perjalanan, seorang laki-laki merasa kehausan, lalu ia menunju kesebuah sumur dan meminum airnya. Setelah ia keluar, ternyata ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan memakan pasir karena kehausan. Lelaki itu bergumam, "Anjing ini telah merasa kehausan seperti yang telah aku rasakan.' Lalu laki-laki itu pun menuju dan masuk kesebuah sumur dan memenuhi sepatunya dengan air, lalu menggigit sepatu itu dengan mulutnya seraya memanjat hingga sampai ke permukaan. Kemudian ia pun memberi minum anjing tersebut, maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah kita akan mendapatkan pahala dengan memberi minum binatang ternak kita?' Rasulullah saw menjawab, 'Pada setiap limpa yang basah terdapat pahala'" (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadist diatas dapat kita ketahui bahwa memberi minum hewan merupakan sunnah Rasululah saw yang sekaligus dapat mengantarkan seseorang menuju pintu surga, karena hal tersebut dapat menghapus dosa. Namun apabila kita enggan memberi makan atau minum hewan, terutama hewan peliharaan atau hewan ternak yang kita miliki maka hal itu dapat mengantarkan kita menuju pintu neraka, dimana Rasulullah saw. pernah bersabda:
"Seorang wanita mendapat siksa karena seekor kucing yang diikatnya sampai mati sehingga ia masuk neraka. Ia tidak memberi makan dan tidak pula memberinya minum ketika ia mengikatnya, dan ia tidak membiarkannya bebas sehingga dapat memakan serangga bumi" (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga tulisan diatas dapat menambah pengetahuan kita sekaligus keimanan kita, karena Islam Pedoman Hidup kita.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Menyingkirkan Gangguan Dari Jalan

Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa menyingkirkan gangguan dari jalan kaum Muslimin, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan, dan barangsiapa yang diterima darinya satu kebaikan, maka ia akan masuk surga" (HR. Bukhari dan ad-Dhiya al-Maqdisi dari Ma'qil bin Yasar ra.).

Diantara bentuk-bentuk tindakan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sebagai berikut:
  1. Memotong ranting pohon yang menggangu para pengguna jalan.  Seorang Muslim hendaknya memotong ranting-ranting pohon yang melintang diatas badan jalan. Rasulullah saw. bersabda: "Ada seorang laki-laki melewati sebuah ranting pohon yang melintang diatas badan jalan, lalu ia berkata, 'Demi Allah aku akan memotong ranting ini agar tidak mengganggu kaum Muslimin', maka ia pun dimasukan kedalam surga (HR. Muslim).
  2. Menebang batang pohon yang tumbuh di tepi jalan dan mengganggu para pengguna jalan. Barangsiapa melakukan tindakan ini, maka ia pun akan masuk surga. Rasulullah saw. bersabda: "Sungguh aku telah melihat seorang lelaki tidur-tiduran di dalam surga karena telah memotong sebatang pohon yang tumbuh di badan jalan yang mengganggu kaum Muslimin" (HR. Muslim)
  3. Memindahkan batang pohon yang menggangu para pengguna jalan ke tempat yang tidak mengganggu mereka. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. bahwasanya ia berkata: Ada sebatang pohon yang mengganggu kaum Muslimin, lalu ada seorang lelaki yang menjauhkannya dari jalan kaum Muslimin, lalu Nabi saw. bersabda: "Sungguh aku telah melihatnya tidur-tiduran di bawah naungan pohon itu di surga" (HR. Ahmad).
  4. Menyingkirkan batu dijalan. Diriwayatkan bahwa Mu'adz melakukan perjalanan bersama seorang lelaki. Mu'adz mengangkat sebuah batu dari jalan. Orang itu pun bertanya, "Mengapa engkau melakukan hal ini?" Mu'adz menjawab, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa mengangkat sebuah bati dari jalan, akan dicatat untuknya suatu kebaikan, dan barangsiapa yang dicatat untuknya suatu kebaikan, maka ia akan masuk surga" (HR. Thabrani).
  5. Menyingkirkan sobekan kertas yang bertuliskan ayat Al-Quran, hadis Nabi saw. ataupun Asma Allah Ta'ala dari jalan. Dikisahkan bahwa Bisyr al-Hafi, seorang zahid yang sangat terkenal pernah berjalan melintasi sebuah jalan di Kota Baghdad, lalu ia melihat sebuah kertas tergeletak di tengah jalan. Di dalam kertas ternyata terdapat tulisan Asma Allah Ta'ala. Setelah memungutnya, ia membeli minyak wangi seharga satu dirham dan memercikannya pada lembaran kertas yang bertuliskan Asma Allah, lalu meletakannya di tempat yang aman. Dalam tidurnya, ia mendengar suara berbicara kepadanya, "Kamu telah memberi wewangian pada nama-Ku, sungguh Aku akan mengharumkan namamu di dunia dan di akhirat" (Tamam al-Minnah, 11).
  6. Menyingkirkan semua gangguan dari jalan yang dilewati kaum Muslimin, seperti paku, kayu, duri, sampah dan apapun yang mengganggu kaum Muslimin. Diriwayatkan bahwa kakek Mu'awiyah bin Qurrah berkata, "Aku pernah berjalan bersama Ma'qil bin Yasar di sebuah jalan, lalu kami melewati sebuah gangguan di jalan, dan ia kemudian menyingikirkannya. Ketika melihat gangguan seperti itu, akupun menyingkirkannya. Lalu, ia memegang tanganku seraya bertanya, 'Wahai keponakanku, apa yang mendorongmu melakukan hal yang kamu lakukan?' Aku menjawab, 'Wahai paman, aku melihatmu melakukan hal itu, maka akupun melakukan seperti yang telah engkau lakukan.' Lalu ia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa menyingkirkan gangguan dari jalan kaum Muslimin, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan, dan barangsiapa yang diterima darinya satu kebaikan, maka ia akan masuk surga" (HR. Bukhari). 
Semoga, dari tulisan diatas dapat menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa menyingkirkan gangguan dari jalan yang sifatnya dapat mencelakakan diri kita sendiri maupun orang lain. Jika kita melakukan nya dengan niat ikhlas, mudah-mudahan Allah swt mencatat bagi kita suatu kebaikan yang dapat mengantarkan kita menuju surga. Amin.


Jumat, 25 Oktober 2013

Bersedekah Susu

Rasulullah saw. bersabda: "Ada empat puluh amalan, yang tertinggi adalah meminjamkan seekor kambing untuk diperah susunya, tidak ada seorang pun yang melakukan satu amalan dari keempat puluh amalan ini, dengan mengharap pahala-Nya dan membenarkan apa yang dijanjikan Allah untuknya, melainkan Allah akan memasukannya ke dalam surga" (HR. Bukhari dari Abdullah bin Amr bin Ash ra.)

Bersedekah susu menjadi amalan ringan yang tertinggi karena susu merupakan konsumsi yang sempurna, dimana susu makanan sekaligus minuman. Rasulullah saw. bersabda: "Aku tidak mengetahui minuman yang dapat menggantikan fungsi makanan selain air susu. Barang siapa di antara kamu meminumnya, maka hendaknya ia berdoa, 'Ya Allah berkahilah kami pada susu yang telah engkau anugerahkan kepada kami dan tambahkanlah untuk kami dari susu ini.' Dan barangsiapa memakan suatu makanan, maka hendaknya ia berdoa, 'Ya Allah berkahilah kami pada apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, dan tambahkanlah rezeki yang lebih baik dari makanan ini'" (HR. Ahmad).

Bersedekah susu dengan meminjamkan seekor kambing kepada keluarga miskin berarti memberikan keleluasaan kepada mereka untuk memerah susu sesuai dengan kebutuhan mereka, tanpa ada perasaan malu kepada pemberi sedekah. Berbeda halnya dengan sedekah makanan, bila jumlahnya sedikit sering kali tidak mencukupi. Namun disisi lain, orang yang diberi sedekah merasa malu untuk meminta tambahan sedekah karena memang hal ini kurang etis untuk dilakukan.

Selain itu, bersedekah susu dengan meminjamkan seekor kambing kepada keluarga miskin berarti kita memberikan kepercayaan bahwa mereka tidak akan menjual, membawa lari, atau menyembelih kambing atau sapi yang dipinjamkan. Ini adalah salah satu bentuk baik sangka (husnuzhan) kepada sesama kaum Muslimin yang diperintahkan Islam. Rasulullah saw. bersabda: "Jauhilah olehmu berburuk sangka, karena buruk sangka adalah perkataan yang paling dusta" (HR Bukhari).

Untuk kondisi masa sekarang ini, bersedekah susu bubuk atau susu kaleng wallahu a'lam dapat dianalogikan dengan meminjamkan seekor kambing untuk diperah susunya. Sebab, susu bubuk maupun susu kaleng pada asalnya adalah susu yang diperah dari seekor sapi, kambing ataupun unta sehingga memiliki kesamaan hukum dengan wujud aslinya. Syaratnya, sedekah susu bubuk atau kaleng ini dalam jumlah yang mencukupi dan mengenyangkan orang yang diberi sedekah.


Kamis, 24 Oktober 2013

Kisah Nabi Ya'kub As. Dan Malaikat Maut

Disebutkan di dalam kitab Zahrur Riyadh, bahwa Nabi Ya'kub as. bersaudara dengan malaikat maut, suatu ketika malaikat maut datang pada Nabi Ya'kub as. lalu ia bertanya kepadanya: "Wahai malaikat maut, anda datang untuk mengunjungi aku ataukah untuk mencabut nyawaku?" "Aku datang hanya berkunjung kepada anda", jawabnya. Nabi Ya'kub pun berkata: "Aku berharap anda sudi memenuhi hajat dan permohonanku." "Hajat apakah itu", tanya malaikat maut. Nabi Ya'kub berkata: "Apabila ajalku telah dekat dan anda akan mencabut nyawaku, hendaklah kiranya anda memberitahukan kepada ku." Malaikat maut menjawab: "Ya, akan ku kirimkan pada anda dua atau tiga utusan untuk menyampaikan kalau ajal mu telah dekat.

Ketika ajal Nabi Ya'kub telah tiba, datanglah malaikat maut kepadanya, dan Nabi Ya'kub bertanya kepadanya sebagaimana biasanya: "Wahai malaikat maut, apakah anda datang berkunjung ataukah untuk mencabut nyawaku?" "Aku datang untuk mencabut nyawa anda", jawab malaikat maut. Lalu Nabi Ya'kub as. bertanya, seolah menagih janji: "Bukankah anda telah berjanji kepadaku bahwa sebelum anda mencabut nyawaku, terlebih dahulu anda akan mengirim utusan kepadaku?" "Aku telah melakukan hal itu dan menepati janjiku", jawab malaikat maut. "Putihnya rambut anda, yang sebelumnya hitam; lemahnya tubuh anda setelah kuat sebelumnya, adalah merupakan utusanku kepada anak Adam sebelum datang kematiannya.

Begitulah kisah Nabi Ya'kub as. dan malaikat maut. Dimana pada dasarnya kita semua pasti akan mati, tua ataupun muda; pejabat ataupun rakyat biasa; kaya ataupun miskin, karena cepat atau lambat; siap ataupun tidak siap; suka ataupun tidak suka... ketika Allah swt datang memanggil, kita tak dapat menolaknya walau sedetik pun.

Rabu, 23 Oktober 2013

Kelalaian

Kelalaian atau kelengahan akan menambah penyesalan, kelalaian akan menghilangkan kenikmatan dan menghalangi penghambaan kepada Allah. Kelengahan akan menambah kedengkian, keaiban dan kekecewaan.

Diceritakan bahwa ada sebagian orang-orang saleh, bermimpi melihat gurunya. Dalam mimpi itu ia bertanya kepada sang guru: "Penyesalan manakah yang terbesar menurut anda?" Sang guru menjawab: "Penyesalan akibat kelengahan."

Abu Ali Ad-Daqaq berkata: "Suatu ketika aku datang mengunjungi salah seorang saleh yang sedang sakit. Dia termasuk salah seorang masyayikh besar. Saat itu ia dikelilingi oleh murid-muridnya dan menangis. Dia seorang syekh yang telah lanjut usia. Dalam kondisinya yang kritis itu aku bertanya: "Wahai tuan, mengapa anda menangis? Apakah ada urusan mengenai persoalan dunia?" Dia menjawab: "Bukan itu penyebabnya, tetapi karena shalatku terbengkalai." Aku kembali bertanya: "Bagaimana hal itu bisa terjadi, padahal anda adalah orang yang rajin menjalankan shalat?" Dia menjawab: "Tidakkah anda melihat kondisiku saat ini, aku terbaring tidak dalam keadaan bersujud, aku tak dapat mengangkat kepala dan kesadaranku tak terkonsentrasi mengingat Tuhanku, aku tengah dalam kelalaian. Sementara saat ini adalah detik-detik kekritisanku yang akan mengantarkan aku dalam kematian dalam keadaan lengah.

Di dalam kitab Uyunul Akhbar disebutkan bahwa Syaqiq Al-Bulkhi berkata: "Manusia mengucapkan tiga hal, tetapi mereka benar-benar mengingkari apa yang diucapkannya itu dalam perbuatannya." Mereka berkata: "Kami adalah hamba-hamba Allah." Tetapi perbuatan mereka seperti perbuatan orang-orang yang merdeka. Yang demikian ini, adalah pengingkaran atas ucapannya. Mereka berkata: "Allah yang menanggung semua rizki kami." Tetapi hati mereka tidak tenang dan tidak merasa puas kecuali dengan dunia dan mengumpulkan harta kekayaan. Ini adalah sebuah pengingkaran atas ucapannya. Yang terakhir, mereka mengatakan: "Kematian adalah sebuah kepastian." Tetapi perbuatan mereka seolah-olah tidak akan mati. Ini juga sebuah pengingkaran atas ucapan mereka.

Oleh sebab itu, bagi orang yang berakal seyogyanya meninggalkan dunia untuk mengabdi kepada Allah swt., memikirkan masa depannya demi kepentingan dan kebahagiaan akhirat.

Allah swt berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيب

Artinya:
"Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat."
Keuntungan dunia berarti kelezatan-kelezatannya, di antaranya berupa pakaian, makanan, minuman dan lain sebagainya. Sedangkan maksud dari tidak ada baginya satu bagianpun di akhir ialah di cabut dari hatinya kecintaan kepada akhirat.

Karenanya, Abu Bakar As-Shiddiq menginfakkan hartanya kepada Nabi Muhammad saw. sebanyak empat puluh ribu dinar secara tersembunyi dan empat puluh ribu lagi secara terang-terangan. sehingga tidak tersisa sesuatu pun padanya.

Nabi Muhammad saw. dan keluarganya adalah orang-orang yang berpaling dari kenikmatan, kesenangan dan kelezatan dunia. Karena itulah, sehingga ketika Nabi Muhammad saw. menikahkan putrinya, Fathimah Az-Zahra ra. dengan Ali, pelaminannya hanya berupa kulit domba yang disucikan (disamak), sedangkan bantalnya berupa kulit binatang yang berisikan sabut. 

Kita Telah Kembali Dari Perang Kecil Menuju Perang Yang Lebih Besar

Para sahabt ridhwanullahi 'alaihim, ketika pulang dari jihad melawan orang-orang kafir, mereka berkata: "Kita telah kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar." Mereka menyatakan bahwa jihad menghadapi hawa nafsu dan setan sebagai jihad yang besar. Karena jihad melawan orang-orang dalam medan pertempuran, hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu saja, dan musuh yang dihadapi juga terlihat dan dapat diketahui dengan jelas. Tetapi berperang melawan musuh yang tak dapat dilihat dan medannya pun tak terbatas. Dengan demikian berperang melawan musuh yang dapat dilihat dengan jelas tentu lebih mudah daripada menghadapi musuh yang tidak dapat dilihat.

Di samping itu setan memiliki pembantu di dalam diri kita, yaitu hawa nafsu, sedangkan orang kafir yang kita hadapi tidak memiliki pembantu dari dalam diri kita. Oleh sebab itu berperang melawan hawa nafsu merupakan perang yang spektakuler.

Ketika kita dapat membunuh dan mengalahkan orang kafir, berarti kita meraih kemenangan dan mendapatkan harta rampasan perang. Dan jika orang kafir dapat membunuh kita, maka kita mati syahid dan mendapatkan balasan surga. Tetapi kita tidak dapat membunuh setan yang selalu melakukan perlawanan terhadap terhadap kita, dan apabila ternyata setan dapat membunuh dan mengalahkan kita, maka kita menjadi terjatuh dalam siksaan Tuhan.

Kemenangan Nafsu Dan Permusuhan Setan

Bagi orang yang berakal, seharusnya mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya dengan menahan lapar. Karena lapar merupakan pengendalian terhadap musuh Allah, sementara hal-hal yang menyuburkan setan adalah memperturutkan kesenangan nafsu, makan dan minum.

Nabi Muhammad saw. bersabda: "Sesunggunya setan berada dalam diri anak Adam berjalan bersama peredaran darah, maka persempitlah perjalanannya dengan cara lapar." Sesungguhnya manusia yang lebih dekat kepada Allah swt. kelak pada hari kiamat ialah orang yang lebih lama dalam menahan lapar dan haus. Dan dosa yang paling besar yang akan merusak dan menghancurkan anak Adam adalah keinginan nafsu perut. Sebab keinginan nafsu perut, Adam dan Hawa diusir dari perkampungan yang abadi, yaitu surga dan menuju perkampungan yang hina dan miskin, yaitu dunia. Ketika Tuhan melarang mereka untuk memakan buah syajaroh, keduanya terkalahkan oleh keinginan nafsu perutnya dan tetap memakan buah itu, perut merupakan sumber dari segala keinginan nafsu.

Allah swt. menciptakan makhluk dalam tiga kategori. Dia menciptakan malaikat dan menyusun di dalam diri mereka akal tanpa dibekali dengan nafsu. Dia menciptakan binatang dan menyusun di dalamnya keinginan (nafsu), tanpa dibekali dengan akal. Sementara manusia merupakan makhluk yang lebih baik, dia dibekali akal dan juga dilengkapi dengan keinginan nafsu. Barangsiapa yang akalnya dapat mengalahkan keinginan hawa nafsunya, maka dia akan mencapai tataran yang lebih dari malaikat.

Karena keinginan nafsu, seorang raja menjadi diperbudak olehnya, sementara karena kesabaran membuat seorang hamba menjadi raja. Tidakkah anda tahu tentang kisah Nabi Yusuf as. dan Zulaikha? Nabi Yusuf as. benar-benar menjadi raja di Mesir berkat kesabarannya, sementara Zulaikha menjadi orang yang hina dina, miskin dan buta karena terseret oleh keinginan hawa nafsunya. Dia tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi cintanya kepada Nabi Yusuf as.

Kisah Nabi Yahya As. Dan Sepotong Roti

Sesungghunya suatu hari Nabi Yahya as. pernah kenyang setelah memakan sepotong roti dari gandum, sehingga pada malam harinya ia tertidur ketika sedang berzikir. Lalu Allah swt. menurunkan wahyu kepadanya: "Wahai Yahya, apakah anda menemukan perkampungan atau tempat bersanding yang lebih utama daripada-Ku? Demi keagungan dan keluhuran-Ku, seandainya anda melihat surga Firdaus, lalu melihat neraka Jahannam sekejap saja, tentu anda akan menangis dengan nanah, karena kehabisan air mata dan anda akan memakai pakaian besi sebagai ganti dari pakaianmu, (karena berlari dari Jahannam dan ingin bersanding dengan-Ku di surga Firdaus)."



Kisah Nabi Yahya As. Dan Iblis

Diceritakan dari Yahya bin Zakaria as. bahwa iblis pernah menampakkan diri kepadanya sambil membawa beberapa kail. Lalu Yahya bertanya kepadanya: "Apa ini?" Iblis menjawab: "Ini adalah aneka macam kesenangan yang akan aku buat untuk mengail anak cucu Adam." Yahya bertanya: "Apakah anda telah mendapatkan sesuatu terhadapku dengannya?" Ibli menjawab: "Tidak, hanya saja anda pernah kenyang dalam suatu malam, lalu aku buat anda berat untuk menunaikan shalat malam." "Adalah suatu hal yang pasti, aku tidak akan makan sampai kenyang lagi untuk selama-lamanya." kata Nabi Yahya as. Lalu Iblis pun menjawab: "Adalah suatu hal yang pasti  pula, aku tidak akan memberi nasehat kepada seorang pun selama-lamanya."

Hal tersebut mengisahkan tentang orang yang tidak pernah merasa kenyang seumur hidupnya, kecuali hanya semalam. Lalu bagaimana halnya dengan kondisi orang yang tidak pernah lapar, namun ia mengharapkan dapat merasakan manisnya beribadah.

 

Kisah Malik Bin Dinar Di Akhir Hayatnya

Diceritakan, bahwa ketika Malik bin Dinar menderita sakit hingga menyebabkan kematiannya, dia menginginkan semangkok madu bercampur susu dan roti hangat. Kemudian datanglah seorang pelayan, mengantarkan dan menyajikan apa yang diinginkannya itu. Ketika makanan itu telah tersedia dihadapannya, ia mengambil dan melihatnya sesaat, lalu berkata: "Wahai nafsu, anda telah bersabar (untuk tidak memakannya) selama tiga puluh tahun, kini umurmu hanya tinggal sesaat saja, mengapa anda tidak mau bersabar?" Lalu dia melepaskan tangannya dan berpaling dari makanan yang ada dalam mangkok itu, dia bersabar dalam menahan keinginannya dan tidak memakannya. Sesaat setelah ia melepaskan dan berpaling dari makanan itu, dia menghembuskan nafasnya (meninggal dunia).

Demikianlah kondisi para nabi dan wali dalam usahanya untuk mengendalikan hawa nafsunya. Mereka adalah orang-orang yang memegang teguh komitmen keimanannya dengan penuh kesabaran, merindukan Allah swt. dan sangat zuhud dalam kehidupannya.